Sabtu, 08 Juni 2013

Resensi Novel Negeri 5 Menara

Judul Buku                : Negeri 5 Menara
Nama Pengarang         : Ahmad Fuadi
Tahun Terbit             : 2009
Nama Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tempat Terbit           : Jakarta
Tebal Buku                 : 423 Halaman

Isi :
Alif Fikri berasal dari Maninjau, Bukittinggi, Sumatra barat, adalah seorang anak laki-laki desa yang sangat pintar. Ia dan teman baiknya Randai memiliki mimpi yang sama yaitu masuk ke SMA terbaik di Bukittinggi dan melanjutkan studi di ITB, universitas yang bergengsi itu. Selama ini Alif bersekolah di madrasah atau sekolah agama Islam. Alif merasa sudah cukup menerima ajaran Islam dan ingin menikmati
masa remajanya seperti anak-anak remaja lainnya di SMA. Dengan berbekal  nilai ujian yang lumayan bagus membuatnya merasa akan terbuka kesempatan untuk Amak (ibu) memperbolehkannya untuk masuk sekolah umum. Namun mimpinya seakan sirna, musnah tak berbekas, karena Amak tidak mengijinkan. Beliau menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama yang terkenal di tanah kelahiran Alif. Dengan keputusan setengah hati Alif menuruti keinginan Amak. Namun Alif ingin bersekolah di Pondok Madani yang di Jawa Timur sesuai saran yang di tuliskan melalui surat oleh pamannya Pak Etek Gondo yang sedang berkuliah di Kairo. Dengan keterpaksaan kedua orang tuanya memperbolehkan Alif untuk melanjutkan sekolahnya di Pondok Madani, Gontor, Jawa Timur.

Besok pagi Alif di antar ayahnya ke Jawa dengan menaiki bus. Sebelum meninggalkan rumah, Alif mencium tangan Amak sambil meminta doa dan minta ampun atas kesalahannya. Selama tiga hari dalam perjalanan ke Jawa akhirnya sampai juga di terminal Ponorogo. Di terminal tersebut mereka telah disambut oleh panitia penerimaan siswa baru di Pondok Madani. Kemudian mereka langsung diajak menaiki bus untuk berangkat ke Pondok Madani yang tidak jauh dari terminal tersebut. Sampainya di pondok, Alif mengisi folmulir sebagai calon siswa. Setelah seluruh calon siswa mengisi folmulir, mereka diajak oleh panitia untuk berkeliling di Pondok Madani. Di hari H Alif dan calon siswa lainnya melaksanakan ujian tulis. Hanya satu hari setelah ujian, tepat tengah malam, sepuluh papan pengumuman hasil ujian berjejer di kantor panitia. Alif dan ayahnya merasa sangat senang karena Alif lulus ujian tulis di Pondok Madani.
“Man Jadda Wajada”. Pada hari pertama di Pondok Madani, ustad Salman sebagai wali kelas Alif meneriakkan sebuah kalimat mutiara sederhana dan kuat yakni “Siapa yang bersungguh-sungguh akan behasil”. Di kelas 1 A Alif bersahabat akrab dengan Atang berasal dari Bandung, Raja berasal dari Medan, Dulmajid berasal dari Madura, Said berasal dari Surabaya, dan Baso berasal dari Sulawesi. “Sahibul Menara” sebuah sebutan penghuni Pondok Madani terhadap Alif dan kelima sahabatnya yang selalu berkumpul di bawah menara tertinggi di Pondok Madani saat menunggu shalat magrib berjama’ah atau hanya menghabiskan waktu senggangnya untuk belajar bersama-sama, mendiskusikan tentang impian mereka, mengagumi kisah-kisah islami, semuanya dilakukan di tempat yang sama yaitu menara. Suatu ketika Sahibul Menara menunggu maghrib sambil menatap awan berarak pulang ke ufuk. Di mata mereka awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah “Jangan pernah meremehkan impian walau setinggi langit. Sesungguhnya Tuhan Maha Mendengar”.
Sehabis isya, siswa-siswa berbondong-bondong memenuhi aula. Untuk menghadiri “Pekan Perkenalan Siswa Pondok Madani. Kiai Rais selaku pemimpin Pondok Madani memberikan sambutan dan semangat kepada siswa baru di Pondok Madani. Setelah itu, acara tersebut ditutupnya dengan doa.
Al-Barq nama asrama dimana tempat Alif beristirahat. Sebelum tidur Kak Is membacakan Qanun (aturan tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar). Bila aturan dilanggar ganjarannya tidak main-main. Bila tidak digunduli, sekurang-kurangnya dapat jeweran berantai. Bahkan, bila pelanggarannya berat santri bisa dipulangkan. Pagi harinya Sahibul Menara bersama-sama belanja kebutuhan siswa baru di Pondok Madani. Saat jam menunjukkan 16.50, mereka masih bingung memilih lemari. Lonceng waktu ke mesjid sudah berbunyi mereka kebingungan mencari cara supaya cepat membawa lemari mereka di asrama. Tiba-tiba datang seorang dari bagian keamanan yang menghentikan langkah mereka. Sahibul Menara terkena hukuman jewer berantai karena terlambat lima menit ke mesjid untuk melaksanakan shalat maghrib berjama’ah. Setelah melakukan shalat maghrib Kak Sofyan mengumumkan siswa yang mendapatkan wesel (kiriman dari keluarga atau orang yang dikenalnya)l dan siswa yang harus menghadap ke mahkamah keamanan (orang yang melakukan kesalahan dan dihukum sesuai kesalahannya). Said merupakan siswa yang beruntung mendapatkan wesel pada hari itu. Namun, Alif dan Sahibul menara lainnya termasuk Said juga mendapatkan panggilan untuk menghadap ke mahkamah keamanan karena kesalahan tadi sore. Setiap Sahibul Menara mendapat hukuman menjadi jasus (mata-mata) dan diberikannya 1 kartujasus untuk 2 kesalahan siswa. Dalam waktu 24 jam di mulai saat itu mereka harus mencari siswa lain yang melanggar aturan di Pondok madani serta mencatat namanya (semua siswa di PM memakai identitas diri mereka masing-masing sesuai ketentuan). Apabila mereka tidak mendapatkan siswa yang melanggar aturan dalam waktu 24 jam ke depan maka akan ditambahkan 2 kartu jasus kepada mereka. Waktu tersisa 3 jam, kartu jasus Sahibul Menara terisi semua dan mereka terbebas dari hukuman tersebut.
Surat dari seberang pulau, Alif menerima surat dari Randai yang menceritakan masa-masa perkenalan di SMA bukittinggi. Kedatangan surat dari Randai itu membuat Alif jadi bersedih dan malas bicara. Alif membayangkan keindahan masa-masa berseragam putih abu-abu. Said dan Raja Mencoba menghibur Alif tapi tidak ada hasilnya. Malam harinya ada tambahan kelas malam. “Malam ini kita akan menghabiskan waktu keliling dunia” kata ustad Salman saat masuk di dalam kelas 1 A. Beliau membacakan potongan mutiara dari tokoh-tokoh ini, “BJ Habibie, Mutiara dari Timur” , “Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan”, “Marthin Luther King, Jr: Stride Toward Freedom”, dan “Mohammed, The Man of Allah” yang membuat Alif cukup terhibur.
Pelajaran wajib yang selalu ada setiap hari, enam kali dalam seminggu adalah lughah Arabiah (bahasa Arab) yang diajarkan oleh ustad Salman. Alif dan teman yang lain, pelajaran yang paling ditunggu adalah taarikh (sejarah dunia) yang diajarkan oleh ustad Surur. Mata pelajaran Al-Qur’an dan Hadits juga dibawakan amat menarik oleh ustad Faris. Alif sangat menyukai pelajaran  Khatul Arabi (kaligrafi Arab) yang diajarkan oleh ustad Jamil. Pelajaran yang Alif suka tapi selalu berkeringat dingin saat menghadapinya adalah Mahfuzhat yang diajarkan oleh ustad Badil. Tapi dari semua pelajaran, bahasa Inggris adalah favorit Alif yang diajarkan oleh ustad Karim. Selain kelas pagi sampai jam 6, mereka juga mengikuti tambahan kelas sore untuk mendalami pelajaran pokok, khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris. Tambahan kelas malam yang dibimbing oleh wali kelas. Sementara kamis sore tidak ada pelajaran, tapi diisi dengan pelatihan pramuka. Tapi dari semua hari, hari yang paling mulia bagi kami dalah hari jum’at. Sebab, hari mulia ini adalah hari libur mingguan kami di Pondok Madani. Jum’at artinya bebas melakukan berbagai aktivitas yang tidak menyalahi aturan. Hari jum’at juga mereka boleh keluar dari Pondok Madani asal bisa kembali pada hari itu juga.
Hari jum’at ini, Said mengajak Sahibul Menara ke Ponorogo. Dengan berbagai macam alasan satu-persatu dari Sahibul Menara mendapatkan izin dari ustad Torik yang sedang piket saat itu. Mereka menyewa sepeda ontel dari rumah penduduk. Setelah keluar dari Pondok Madani, pertama yang mereka lakukan yaitu ingin memperbaiki gizi dan makan sate di warung Cak Tohir, membeli berbagai kebutuhan sekolah di pasar Ponorogo. Kedua, ingin melewati Ar-Rasyidah pesantren khusus putri yang terkenal. Yang ketiga agak beresiko, melewati bioskop. Said ingin melihat spanduk film yang di perankan oleh idolanya Arnold Schwarzenegger. Hujan turun sangat lebat, membuat Sahibul Menara terlambat 5 menit dari waktu yang ditentukan yakni jam 17.00. Karena keadaan tersebut mereka terbebas dari hukuman.
Begitu pula siasat Dulmajid yang memengaruhi ustad Torik agar boleh izin nonton bareng pertandingan final bulu tangkis di lingkungan Pondok Madani, padahal qanun (aturan pondok) menegaskan santri Pondok Madani di larang menonton TV. “Ustad, lob antum itu mirip sekali dengan Icuk dan smash atum mirip Liem Swie King. Kalau nggak percaya, kita nonton siaran langsung besok malam.” Kata Dulmajid. Ustad Torik langsung takhluk dan terjadilah peristiwa bersejarah itu : TV masuk Pondok Madani.
Dalam waktu 3 bulan, siswa tahun pertama Pondok Madani masih boleh menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa daerah mereka sendiri. Namun setelah itu mereka harus menguasai bahasa resmi di Pondok Madani yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris. Itu merupakan tantangan terbesar buat mereka. Setiap selesai shalat subuh seorang kakak penggerak bahasa masuk ke setiap kamar dengan membawa papan tulis kecil. Mereka diminta mengulangi bersama-sama dan satu persatu apa yang kakak tersebut katakan. Setelah itu diberikan sebuah kalimat sempurna dengan menggunakan kosa kata yang telah mereka ucapkan bersama-sama tadi. Lalu, giliran mereka membuat kalimat lain dengan menggunakan kosa kata ini. Sebelum di tutup, mereka disuruh meneriakkan kembali kosa kata tadi bersama-sama. Dan mereka diberikan tugas untuk menyalin kosa kata tadi dan membuat 3 contoh penggunaanya dalam kalimat. Itu semua dilakukan setiap hari, 7 kali seminggu. Sebuah metode sederhana yang sangat kuat dan mampu melekatkan bahasa baru ke dalam alam bawah sadar untuk tidak lepas lagi selamanya.
Sementara 2 kali seminggu, setelah shalat subuh, mereka membuat 2 barisan panjang di lapangan dan melakukan percakapan dengan teman yang ada di depannya menggunakan suara yang keras. Kakak para penggerak bahasa akan mondar-mandir  mendengar, mengoreksi, memberi kalimat yang baik. Mereka diajarkan untuk berani mencoba dan tidak takut salah. Sampai pada suatu jum’at, jam 4 subuh. Kak Is menggelitik ujung-ujung sajadah ke hidung Alif, tapi yang keluar dari mulut Alif secara otomatis ucapan : “Maaziltu an’as kak, ayyatu saa’atin haaza?”(masih ngantuk banget kak, jam berapa sih?). Ajaib, dalam posisi setengah sadar Alif menggunakan kalimat lengkap berbahasa Arab. Sejak saat itu Alif dan kawan-kawannya yang lain merasakan perubahan yang sama. Pesan Kiai Rais “Pasang niat kuat, berusaha keras dan berdoa khusyuk, lambat laun, apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini sanatullah-hukum Tuhan”.
Sudah beberapa bulan Alif sengaja tidak menghubungi Amak sebagai protes tidak boleh masuk SMA. Cerita Kiai Rais berputar di kepalanya tentang susahnya menjadi seorang ibu. Karena Alif tidak mau menjadi seperti Malin Kundang maka Alif memohon ampun kepada Allah SWT. Malam itu juga, Alif  menuliskan surat untuk mengabari keadaannya di Pondok Madani kedapa Amak. Sejak itulah Alif teratur menulis surat ke Amak. Satu sampai dua kali sebulan.
Berbagai macam aktivitas dilakukan oleh Alif dan Sahibul Menara lainnya, Sampailah saatnya mereka melaksanakan ujian. Bertempelan dimana-mana spanduk yang bertuliskan “Ma’an najah” (Semoga sukses dalam ujian). Pembukaan ujian oleh Kiai Rais seakan-akan ujian adalah sebuah hari besar keramat ketiga setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Dan dari kejauhan, bunyi lonceng besar berdentang keras. Menandakan 15 hari ujian berakhir. Alhamdulillah. . . . . . . . . . . . . . .
Tiga tahun kemudian, hari pertama imtihan nihai datang juga. Warga Pondok Madani Menyebutnya “ujian di atas ujian”. Berbeda dengan ujian selama ini, untuk ujian kelas enam kami harus berpakaian rapi layaknya seorang penguji. Di awali dengan ujian lisan selama sepuluh hari, kemudian siswa diberikan waktu istirahat beberapa hari untuk mempersiapkan diri untuk ujian tulis. Selang beberapa hari kemudian, mereka masuk ke babak akhir perjuangan thalabul ilmi mereka di Pondok Madani : ujian tulis. Malam hari, mereka berkumpul di aula. Kebiasaan di Pondok Madani, sebuah ujian dibuka dan ditutup dengan pertemuan yang dipimpin oleh Kiai Rais. Inilah Malam Syukuran Ujian Akhir.
Sudah dua minggu berlalu sejak mereka merayakan selesainya ujian. Tiba saatnya, “Pengumuman kelulusan kita sudah ada, bisa di lihat di aula” seru Said sebagai ketua angkatan mereka berteriak-teriak setelah subuh.Alhamdulillah, Alif serta Sahibul Menara dan teman lainnya LULUS. Menurut pengumuman, hanya kurang dari sepuluh orang yang tidak lulus dan mereka dapat kesempatan untuk mengulang setahun lagi. Malamnya, diadakan yudisium dan khutbatul wada’ (Khutbah perpisahan) yang dipimpin oleh Kiai Rais. Kemudian siswa kelas enam berjabat tangan dengan Kiai Rais dan para guru. Selanjutnya, giliran adik kelas mereka memberikan selamat dan jabat tangan. Esok paginya, para alumni sudah siap dengan koper masing-masing. Beberapa bus dengan tujuan masing-masing sudah menunggu di depan aula. Ditengah kabut yang tipis, mereka sekali lagi bersalaman dan berangkulan dan berjanji akan saling berkirim surat. Entah kapan Alif akan melihat Sahibul Menara lainnya sebagai kawan-kawan terbaiknya lagi.
Setelah 15 tahun masa-masa sulit di Pondok Madani berlalu. Alif (Washington DC), Atang (Kairo), dan Raja (London) dipertemukan kembali di London setelan 11 tahun dipisahkan. Keberadaan Sahibul Menara yang lain yakni : Said meneruskan bisnis batik keluarga Jufri d Pasar Ampel, Surabaya. Sesuai cita-cita mereka dulu, Said dan Dulmajid mendirikan sebuah pondok dengan Semangat PM di Surabaya. Baso yang brilian ini kuliah di Mekkah dengan modal hapal luar kepala segenap isi Al-Qur’an, dia mendapat beasiswa penuh dari pemerintah Arab Saudi. Sedangkan, Atang telah delapan tahun menuntut ilmu di Kairo dan sekarang menjadi mahasiswa program doktoral untuk ilmu hadits di Universitas Al-Azhar. Sementara Raja telah 1 tahun tinggal di London, setelah menyelesaikan hukum Islam dengan gelar License di Madinah. Dia akan berada di London selama 2 tahun memenuhi undangan  komunitas Muslim Indonesia di kota ini untuk menjadi pembina agama. Alif sebagai wartawan di Independence Avenue.
Dulu mereka melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Mereka tidak takut bermimpi, walau sejujurnya juga mereka tidak tahu bagaimana merealisasikannya. Tapi lihatlah hari ini. Setelah mereka mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkan dengan doa, Tuhan mengirim benua impian ke pelukkan masing-masing. Mereka berenam teral berada di lima negara yang berbeda. Di lima menara impian mereka. Jangan pernah meremehkan impian, walau setinggi apapun. Tuhan sungguh Maha Mendengar. Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Kelebihan  :
Novel ini dapat dibaca oleh semua kalangan. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat menarik. Ringan, deskriptif dan mengalir serta mampu memperkaya kosakata dan wawasan berbagai macam daerah. Terdapat catatan kaki di bagian bawah yang menjelaskan arti dari kata tersebut. Ungkapan-ungkapan dan peribahasa juga terdapat dalam novel tersebut, salah satunya “Man Jadda Wajada” yang sering di cantumkan dan membuat novel ini terkenang di hati pembaca. Pembaca tidak akan bosan membaca kehidupan di Pondok karena penulis menggunak alur campuran. Penulis mengambil setting Alif yang sudah bekerja lalu mulai masuk ke dalam ingatan-ingatan Alif akan kehidupannya di Pondok Madani. Setelah cukup panjang menceritakan tentang pondok, penulis beralih lagi ke kehidupan Alif sekarang. Bisa Mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok yang hanya belajar agama saja. Karena dalam novel ini selain belajar ilmu agama, ternyata juga belajar ilmu umum seperti bahasa inggris, arab, kesenian dll.

Kelemahan :

Penulis kurang mampu memperlihatkan dinamika dalam cerita. Klimaks cerita kurang menonjol sehingga para pembaca merasa dinamika ceritaa sedikit datar. Setelah selesai membaca, pembaca merasa cerita belum selesai setuntas-tuntasnya. Hal ini mungkin disebakan karena penulis mendasarkan ceritanya pada kisah nyata dan tidak ingin melebih-lebihkannya.

http://ernhaimoetcllu.wordpress.com/2013/03/08/negeri-5-menara/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar